Kamis, Juli 21

Masih Berharap...,

Serasa melepas harap yang begitu besar saat kulihat kenyataanmu begitu tegas menghempaskanku. Surat demi surat percuma kukirimkan, tidak ada balasan yang kuterima. Malam akan selalu menjadi sepi meski bintang sesekali menghiburku. Lingkar bahagia yang kulukiskan dalam kertas peta perjuanganku mulai berubah, satu titik telah bergesar. Ini masalah sepi yang kian menjadi tangguh bersemayam dalam relung hari yang perih.

Sore ini meski kau tak menceritakan bahagiamu, aku akan tetap memberikanmu ucapan selamat. Tidak pada apa yang kuinginkan, kujelaskan padamu bahwa aku mencoba mendekatimu dalam sayap yang tengah siap retak. Beban mulai terasa berat.

Sebentar lagi.,

Aku pandai bermain harmonika, dan aku punya satu buah lagu untukmu. Untuk sepiku pun kulukiskan dalam bait-bait yang sebentar lagi kusut. Berhentilah mencintainya jika kau mencintainya, benarkah aku harus seperti itu?

Jika kau mencintainya, perhatikan bahagianya dari senyumnya. Dari damainya hati saat bercerita tentang mesranya hari mereka jalani. Dengarkan cerita mereka, sambut bahagia mereka. Bisakah aku seperti itu?



Berharap lebih, aku menunggu. Dosa telah menjerumuskan rasaku dalam separuh nafasku. Seiring perginya, dan hadirnya. Menemaninya dalam duka, menyaksikannya dalam bahagia.

Dari kejauhan, aku berusaha mebiarkan bahagiamu kurasakan.

Benarkah aku mampu melihatmu mencintai orang lain?

Cin(T)a benar pergi., bukan untukku kali ini. Kisahku hanyalah kumpulan sepi, sedih dan rindu yang terabaikan. Cintaku adalah cerita yang tak perlu kau hiraukan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar