Jumat, Juli 29

Malam

Terlaranglah rinduku pada semua cerita yang kau tuliskan dari hari-harimu. Sebab, kau pun mulai menjauh seperti menghindar dan mulai acuh. Kesadaranku mencintaimu sebatas apa yang mimpiku ingin kuungkapkan.

Namun hanya dalam sebuah percakapan singkat dengan nurani yang bisa melepas gelisah perlahan-lahan.

Aku terjerumus pada ruang yang tak semestinya kudatangi, begitu pula denganmu yang telah jadi korban dari kesalahanku menilai diriku.

Seandainya aku mengerti posisiku yang sebenarnya, dan aku memahami posisimu yang istimewa. Tentu ruang itu tak pernah terlahir, aku hanya lelaki hina yang tak punya sebuah benda berharga yang bia kupersembahkan pada setiap pernyataanmu nanti. Kau akan merasa berbahagia jika aku telah mengerti posisiku.

Dan inilah cinta yang menghapuskan logika bintang-bintang untuk tetap bersinar terang menghiasi langit malam. Tanpa kau sentuh dan kabari dia, dia akan menghindar.

Kini, cintakulah yang menguatkan aku. Akan cintamu yang tak kunjung mengerti hingga hari ini. Sadar bahwa kau menyimpan sejuta cintamu pada orang yang lebih berarti dan lebih baik. Maka biarkan kesadaranku dalam mencintaimu terus mengaku bahwa aku bukanlah siapa-siapa. Tak mampu untuk menepis rindu yang kemudian menjadi racun menggelapkan malam saat para bintang berlarian pergi mencari galaksi yang pecah dan berhamburan.

Sudahlah, ikutkan aku menjadi serpihan galaksi yang nantinya akan menjelaskan setianya bintang pada bulan. Bulan memandangmu tak ubahnya aku memandang sempurnanya purnama. Kau tetaplah cinta, meski kau tak menganggapku cinta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar