Selasa, Juli 19

Aku sebenarnya (ImAjinAsi.......)

Suatu ketika dimana angin terasa sangatlah sejuk nan memberi kedamaian dalam hati, saat itu pula aku melahirkan senyum nan bahagia untuk sebuah pemikiran dan pilihan hidup. Jika saja aku mengeluh minggu lalu maka aku takkan pernah menemukan cinta yang setulus imajinasiku sendiri, masih dalam imajinasi. Ketulusannya tak bisa dipaparkan lewat secarik kertas dan tulisan sederhana, tulusnya tidak sederhana dan memang rumit serumit kau mengartikan puisi-puisiku. Mungkin saja saat ini alismu mengerut membaca rangkaian kata-kata ini.

Aku pernah membaca tulisanmu yang jauh lebih memaknai kata per kata, dibanding tulisanku maka aku akan mati dan terhempas dari dimensi yang kau inginkan. Setiap rahasia makna yang kau salurkan menceritakan kehebatanmu untuk setiap titik-titik kagum dalam pikiranku.
Sejauh perasaanku mencoba menemani ketentuanku dan memahami kehadiranmu, aku sungguh hilang dan tersesat dalam pikiranmu yang sulit untuk kupahami. Aku tidak meyerah dan tidak ingin berhenti, sejenak aku berniat untuk menghentikan jejak-jejak abstrak untuk menemuimu namun kupikir jika aku melakukan itu maka aku membunuh kekuatan-kekuatan hadiah dari langit, sebab di langit baik itu siang atau malam, aku mampu menemukanmu.

Di siang hari, ada segerombolan awan yang mampu meneduhkan jiwa, ada sinar matahari dengan gagahnya menghangatkan rumput taman samping rumah tempatku menuliskan surat-surat rahasia untukmu, sedangkan di malam hari, langit seperti layar yang memperlihatkan rindu yang begitu besar. Di setiap bintang yang bertebaran aku menitipkan sebuah sinar untuk kau rasakan namun kupikir kau tidak akan merasakannya, tidak akan peduli sampai hari ini.

Dalam keadaan seperti ini, sering aku berhenti sejenak dan menengok ke atas memandangi langit.

“Wahai Tuhan yang sedang duduk di singgasana langit ketujuh, inikah kehidupan yang KAU berikan padaku?”

Sekarang, dan mungkin hari esok. Aku terperangkap pada dimensi yang kuciptakan sendiri, ruang yang selanjutnya semakin kau jauhi kemudian membiarkan semua cahaya meredup, menghilang, dan menjadi abadi dalam ketiadaanya. Teruslah seperti apa yang kau inginkan, setidaknya kau membaca tulisan ini dan memberi satu komentar yang membuatku tersenyum.

Untuk seseorang yang memiliki beberapa huruf A dalam namanya,

1 komentar:

  1. teruslah hidup dalam imajinasimu...
    kerena sejatinya kebebasan itu hanya milik pikiran kita..

    "merdekalah dalam pikiranmu"

    Namun harus juga kau tau... hidup bukan milik alam imajinasi semata... ada alam yg begitu keras dan harus dijelajahi..alam yg akan mengantarkanmu pada titik kedewasaan berpikir, bersikap dan bertindak... alam itu disebut alam nyata...
    terkadang alam imajinasi tak seindah alam nyata...
    namun alam nyata dapat kau buat seindah imajinasimu... jika kau mampu melangkah dengan bijak...

    ;)

    BalasHapus