Minggu, Juli 31

Bunga Dandelion

Saat ini, saat aku berharap kau mengerti. Angin selalu menghembuskan hadirnya pada sepi yang kian menguat. Dari jauh, aku memandangmu, menitipkan rindu pada angin, lalu kubiarkan angin membawanya. Entah sampai atau tidak, yang saya mengerti hanyalah, aku mencintai apa yang tidak kau pahami.




Terhempas oleh angin, namun tidak akan mengubah indahnya. Aku tetap akan menjaga indahnya rasa itu, seperti halnya Dandelion.

Bunga rumput, terkadang ada yang menyebutnya seperti itu. Seperti yang ada di header blog ini, ada gambar rumput bersama dandelion. Sengaja kugunakan seperti itu, untuk melukiskan apa yang ada dalam pikiran dan perasaan ini.

Hidupnya sederhana, ketika bunga merekah, maka ikhlaslah bunga-bunganya terbang tinggi mengikuti angin, terlihat ringan tanpa beban. Bertebaran, bahkan mampu terbang jauh mengikuti angin.



Belum sempat kau melihat indahnya bunga itu, maka angin memanggilnya. Kau mungkin hanya akan melihat indahnya saat bunga-bunga itu terlepas dengan bahagia. Mungkin seperti itu yang akan kulakukan, tak perlu melihat indahnya rasa ini. Cukup angin yang membuatku indah, matahari akan membantuku untuk selalu tegar.



Kau, tidak akan mampu menerima hadirku yang sederhana. Aku akan menjadi dandelion yang ikhlas melepas, membiarkan pergi karena dengan itu mungkin aku akan terlihat lebih baik dan kau akan tersenyum. Cukuplah kau tersenyum saat melihat semuanya berterbangan di langit biru.

*Dari semua itu, cinta telah mengakui hadirnya namun tidak bagimu.

Sabtu, Juli 30

Hujanlah...

Betapa bodohnya jika kau harus menemani rumput yang tumbuh di pematang sawah, yang hanya berteman dengan belalang kecil. Kau tak perlu datang mendekat, tak perlu hiraukan dinginnya malam yang menjadi kisahku. Kau cukup menjaga indahmu bersama dengan apa yang kau anggap indah. Tumbuh, harum semerbak wangimu pancarkan cahayamu. Dari berkas cahaya yang kau pancarkan, aku bisa.!!!

Cukup aku mendengar kabarmu, bahagiamu, dan kisahmu dengannya.

Cinta telah cukuplah untuk cinta. Meskipun terus menjadi sederhana, dan terus membingungkan. Kau akan mengerti suatu saat nanti, karena ini cin(T)a...!!!

Lihat saja para bintang yang masih bersinar hingga kau membaca tulisan ini, semua itu karena para bintang memilikinya, memiliki satu kekuatan, cahaya yang indah dan terindahkan oleh malam. Jangan kau sambut sebuah kepedihan dengan air mata, berbahagialah selalu. Kau punya cahaya itu,


Malam ini jika hujan turun, aku bahagia. Aku akan bebas untuk mengeluarkan sepiku, sedihku. Saat hujan, belalang pun tidak menyadarinya kalau aku meneteskan air mata. Bahagiaku ada saat hujan. Malam ini, hujanlah untuk menghapus sepiku.

Jumat, Juli 29

Malam

Terlaranglah rinduku pada semua cerita yang kau tuliskan dari hari-harimu. Sebab, kau pun mulai menjauh seperti menghindar dan mulai acuh. Kesadaranku mencintaimu sebatas apa yang mimpiku ingin kuungkapkan.

Namun hanya dalam sebuah percakapan singkat dengan nurani yang bisa melepas gelisah perlahan-lahan.

Aku terjerumus pada ruang yang tak semestinya kudatangi, begitu pula denganmu yang telah jadi korban dari kesalahanku menilai diriku.

Seandainya aku mengerti posisiku yang sebenarnya, dan aku memahami posisimu yang istimewa. Tentu ruang itu tak pernah terlahir, aku hanya lelaki hina yang tak punya sebuah benda berharga yang bia kupersembahkan pada setiap pernyataanmu nanti. Kau akan merasa berbahagia jika aku telah mengerti posisiku.

Dan inilah cinta yang menghapuskan logika bintang-bintang untuk tetap bersinar terang menghiasi langit malam. Tanpa kau sentuh dan kabari dia, dia akan menghindar.

Kini, cintakulah yang menguatkan aku. Akan cintamu yang tak kunjung mengerti hingga hari ini. Sadar bahwa kau menyimpan sejuta cintamu pada orang yang lebih berarti dan lebih baik. Maka biarkan kesadaranku dalam mencintaimu terus mengaku bahwa aku bukanlah siapa-siapa. Tak mampu untuk menepis rindu yang kemudian menjadi racun menggelapkan malam saat para bintang berlarian pergi mencari galaksi yang pecah dan berhamburan.

Sudahlah, ikutkan aku menjadi serpihan galaksi yang nantinya akan menjelaskan setianya bintang pada bulan. Bulan memandangmu tak ubahnya aku memandang sempurnanya purnama. Kau tetaplah cinta, meski kau tak menganggapku cinta.

Hadirmu Pagi ini,

Sadar atau tidak, kau telah menanam sebuah rasa yang harusnya tumbuh dan subur dengan hijaunya yang damai. Namun, aku bukanlah manusia yang selalu ingin menerima sesuatu dengan mudah, termasuk hadirmu yang saat ini terus memberi bayang, mengikuti langkah dan menjebak logikaku pada lorong-lorong berliku.

Kau benar jika harus mencintai seseorang haruslah berlandaskan cinta yang sebenarnya, namun aku belum mengerti cinta yang kau maksud. Cintamu adalah seseorang yang jauh lebih baik, dan untuk cintaku....., cinta itu pun belum terdefinisikan pagi ini.

Cinta.., bersabarlah. Cinta..., bersyukurlah. Cinta..., tersenyumlah.

Terkadang gugurnya dedaunan mengisyratkan bumi yang tengah merindu akan hembusan angin, gelombang air melukiskan hadirnya sebelum jujur pada tepi, mengakuinya pada rumput-rumput sepi, dan pohon tua akan menemani di sebuah danau, tenggelamlah cinta, rindu, dengan seluruh rasa birunya.

Kelak pada suatu waktu yang telah tuhan tentukan, aku berterus terang, aku jujur, dan aku mengakuinya bahwa cinta adalah cinta yang menggetarkan rasa, menghidupkan hari, melahirkan senyum, merangkai damai, namun terkadang mengundang kesedihan. Beruntunglah aku berteman sepi, yang selalu mendengar ceritaku di dimensi waktu yang berbeda, tanpa kau dengar dan itu sangatlah menyenangkan.

Setiap jiwa adalah warna, setiap warna memiliki rasa, dan tiap rasa ada pada suatu individu masing-maasing. Aku telah memilihmu, meski waktu belum memberi kesempatan pada detik-detik untuk mengurai hari yang begitu berat tuk dijalani.

Jika kuhadapi hadirmu, ceritamu yang menyedihkan, maka aku bersiap menerimanya. Cintaku belumlah bisa kusebut cinta sebelum kuyakinkan nuranimu sendiri bahwa aku mencintaimu.

Jika benar ini cinta, ijinkan aku membuatmu tersenyum.
Jika benar ini cinta, kutegarkan hatiku untuk terluka
jika benar ini cinta, maafkan....
jika benar ini cinta, biar kujaga sendiri

hingga waktunya nanti kau terdiam, hingga akhirnya kau pergi, hingga akhirnya kau tak peduli.

Cinta hanyalah cinta, yang mengajariku untukku tegar, mengajariku untuk selalu bahagia, dan hadirmu adalah cinta.


Rabu, Juli 27

Untukmu, Aku Berbohong


Ada kalanya aku bersembunyi dalam tiap senyum yang kulahirkan di depanmu. Meskipun kau menganggapnya biasa saja, sementara aku tersenyum hanya untuk menegarkan hati yang terabaikan oleh hadir sepi tak teruraikan, sebelum sepi menjadi raja di pertemuan kita, aku ingin kau mengerti. Kemanapun seruan angin berhembus meneriakkan kebebasannya, tetap aku merasa dalam lilitan kepalsuan yang sejati. Jadikan saja aku angin itu, dan kau yang menggenggam derita ini.

Biar aku berbohong, tatap matamu tetap menyiksa batin yang tergerus oleh dimensi waktu yang menyakitkan. Aku tidak mengungkapnya, biar aku berbohong saja, agar kau tak terusik. Jurang dengan hitamnya menanti walau indahnya di persimpangan jalan tempat aku menemanimu menunggunya terdengar memilukan. Seseorang yang kau anggap pengurai sepimu, penghapus sedihmu, dan pemberi warna setiap pelangi-pelangi hidupmu.Dia yang kau tunggu, sempurna dan hebat.

Tak habis pikir akan begini jadinya, bermain dengan awan yang terus berkelana meninggalkan teduhku dan di balik pohon besar itu, aku merindukanmu. Sekiranya angin menahanmu agar awan tetap meneduhkan hari-hariku yang sepi, bukan rindu namun aku selalu melihat ke langit, menunggu awan bercerita bersama teman-temannya. Hingga sepakat menurunkan tetesan hujan yang aku rindukan.

*Semoga esok ada hujan agar kita menikmati hari yang penuh dengan kecewa.

"Belajar Berbohong dan Kau Percaya!!! Kau Percaya bahwa aku tidak mencintaimu?"


Jawabmu...., apa jawabnya?

Selasa, Juli 26

Memang Tak Pantas..

Semalam aku menulis namamu dalam sebuah surat cinta, bukan surat cinta namun catatan-catatan tak berharga yang di dalamnya ada hamparan rindu. Kala aku mulai membaca tulisanku sendiri, terasa kau semakin dekat dan menatapku. Ini bayangmu, dalam harapku kau terus lahir dari imajinasi-imajinasiku. Bayangmu telah menguasai setiap sudut pikiranku.

Ketika malam itu kembali datang, mengundang rindu memancing sepi pada gelapnya malam yang satupun bintang tak memberi cahayanya. Benar bahwa malam ini, malam yang luka dengan hampran bintang bersembunyi dengan hebatnya di balik awan malam itu. Kukalahkan rasa ketakutanku melihat keadaanku sendiri, mungkinkah kau disana tengah merasa sedih, hingga aku seperti mendapat firasat buruk dengan keadaanmu. Atau aku yang selalu salah mengartikan hadirmu. Kuharap bersamanya kau masih berdamai dengan hatimu. Dari jauh aku terus mendoakanmu agar tuhan tetap memberimu cinta yang indah, dengannya kau bahagia.

Sebagai terapi malam itu, aku terus menuliskan namamu dalam kisahku. mengubur harapku. Untuk menghadapi masalah hati yang galau, ijinkan aku menuliskan namamu dalam tiap lembaran kasih yang tuhan hadiahkan. Betapa hebatnya rasa yang tuhan titipkan padaku, kau akan bahagia bersamanya. Semoga sangat berbahagia. Jauh sebelum nantinya kau mengerti akan perasaanku, aku tidak akan pernah mengungkapnya. Kupikir, kau bisa dapatkan kisah, dapat cinta yang jauh lebih baik. Dan karena aku memang tak pantas.

Senin, Juli 25

Aku tak ada...

Kenangan adalah kisah yang tersusun rapi dalam perpustakaan ingatan kita. Setiap lembaran-lembaran rindu yang telah tertuliskan oleh hiasan pelangi dalam setiap guratan warna langit yang terlukis penuh cinta keras mengikat rasa. Aku ingin menemuimu selalu dalam setiap hari yang telah kau ceritakan, dari setiap ceritamu aku ingin bisa bersamamu. Tidak hanya selalu memandangmu dari jauh, memperhatikan langkahmu yang semakin menjauh.

Sungguh, aku menyukai senyummu setelah kau sapa setiap sepiku di tengah malam yang penuh rindu. Sungguh, aku merindukan cinta yang ada dalam dongeng masa kecilku. Yang kukenal cinta adalah kekuatan, tidak seperti cinta yang kudengar dari kisahmu yang jauh berbeda. Jikalau aku menantimu, maka hamparan rindu tetap bersemayam selalu di dinding-dinding warna putih.

Celakanya, hadirku tidak pernah ada dalam kisahmu. Tak ada dalam rencanamu, dan tenggelam dalam berjuta keinginanmu yang sebenarnya aku mencintai hadirmu. Hadirku, atau hadirmu dalam dimensi yang telah kau ciptakan menjelma menjadi sepi menunggu ruang penantian yang sangat kelam kelabu.


Bukan tidak mungkin aku berhenti berharap, namun aku hanya ingin menjaganya selalu. Dari rangkaian kisah yang kuceritakan, atau dari kisahmu yang kudengar dalam anging mamiri, yakinku kau akan menyapa hadriku di sudut ruang hatimu yang indah. Ranting-ranting rindu menyisahkan tanya padaku, apakah esok kau akan mengenalku?

Minggu, Juli 24

Menunggu Ceritamu...

Komentar terakhir mengatakan, "Cinta Tak Harus Memiliki", untuk saat ini saya setuju. Cinta adalah kekuatan yang kita miliki yang kemudian menjadikan kita kuat untuk terus menghadapi masalah yang silih ganti bertamu di rumah hati kita masing-masing. Judul blog ini, "Cerita Kita" , judul itu bukanlah sembarang judul melainkan punya maksud khusus.

Sejak rasa itu lahir dari tiap kabar yang kau sampaikan, aku punya beberapa mimpi untuk menegaskan bahwa aku benar-benar Cinta.

Judulnya Cerita Kita, dan saat ini ada label ceritaku. Mimpiku adalah suatu saat akan ada label ceritamu, dan kemudian cerita kita.

Inginku masih jauh dari hal di atas, entah harus menunggu berapa minggu lagi, berapa bulan lagi, beberapa tahun lagi, aku masih menunggumu untuk membuka ruang yang saat ini tengah di isi oleh orang lain. Saat ini, bahagiaku yang kedua adalah mencintaimu dan kau membalasnya, yang pertama adalah aku bahagia saat kau tersenyum dan menyapaku.

Belum pernah kucoba mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya, sebab belum sempat kuuraikan, aku baru tahu kalau kau punya orang lain. Bahagia terdekat yang tengah kunanti adalah kedatangnmu di blog ini, membaca dan mengkritik mungkin. Postingan-postinganku masih setia menunggumu, setiap huruf akan tampil dengan senyumnya yang khas.


Kau berkomentar, maka bahagialah blog ini. Untuk saat ini Jalanmu bukan jalanku...

*Tuhan, kenapa aku harus mencintai dia yang lebih mencintai orang lain?






Perpisahan?

Secepatnya aku ingin menjelaskannya padamu, namun belum sempat aku sampaikan aku sudah berhenti. Berhenti karena terhalang dinding besar, sangat besar dan keras.
Sekarang saja, aku masih termenung, diam mencari bayang-bayang yang nantinya kutempati bertanya. Cukup bayangan yang menentukan langkah untuk menemuimu.

Meskipun aku mencintaimu setulus hati, menyayangi dengan sepenuh jiwa namun jika kau tak perlu mengetahuinya, cukuplah sebatas harap saja untukku. Biar kujaga hingga akhir, namun sejatinya aku menginginkanmu lebih dari apapun.

Kisah ini tak seindah yang kau inginkan, jauh dari sempurnanya cinta. Kisahku sepertinya tak akan pernah mendapatkan kisahmu yang selalu indah. Sulit bagiku untuk berada disisimu,

Tak mampu kutepiskan, bahwa aku nantinya akan merindukan perasaan yang kualirkan di laut biru perpisahan. Memutuskan untuk tidak mengusikmu lagi, jalanmu telah indah.

*Kutak akan pernah bisa mengingkarimu, aku mencintaimu.
Berbahagialah dalam kisahmu dengannya.

Pagi ini aku melihatmu, dan

Biar aku mencintaimu disini saja, tak perlu kau lihat.!

Sabtu, Juli 23

Cinta Tak Terlihat...


Kenapa kita menutup mata, saat kita tertidur? Ketika kita menangis? Dan ketika kita membayangkan senyumannya? Mungkin karena hal terindah di dunia ini tak terlihat. Ketika aku menemukan seseorang dengan keunikannya sejalan dengan pikiranku.Aku selalu mencoba bergabung dengannya dan jatuh ke dalam suatu keanehan serupa yang orang sebut itu CINTA.

Selalu ada hal-hal yang tidak ingin kita lepaskan, ada seseorang yang tak ingin kutinggalkan. Tapi, sepertinya aku harus melepaskannya. Dan yakin bahwa melepaskannya bukanlah akhir dari dunia, melainkan awal suatu kehidupan baru.

Kebahagiaan akan datang untuk cinta yang ditangisi, untuk cinta yang tersakiti, cinta yang telah mencari, dan untuk cinta yang telah mencoba mendekat namun gagal. Dengan itu, mungkin kekuatan inilah yang bisa menghargai betapa pentingnya orang yang telah menyentuh kehidupan ini.

Cinta yang agung adalah ketika kita meneteskan air mata,dan masih peduli terhadapnya. Adalah ketika dia tidak memperdulikan kita dan kita masih menunggunya dengan setia. Adalah ketika dia telah sangat mencintai orang lain dan kita masih bisa tersenyum sembari berkata, "Semoga hubunganmu lancar aja! :D"

Apabila cinta tak berhasil, Bebaskanlah dirimu, biarkan hatimu kembali melebarkan sayapnya dan terbang kealam bebas lagi. Yakin saja, bahwa kita mungkin menemukan cinta dan kehilangannya.Tapi saat cinta mulai mati, kita tidak perlu mati bersamanya.

Untukmu dan untuknya, adalah cinta yang senantiasa kudoakan.

Seperti itukah cinta? Rumput saja terus bertanya pada sesamanya rumput.

Jika Kujelaskan Hari Ini Bagaimana?

Aku masih merasa sangat kedinginan, tubuhku beku menantang udara pagi ini. Sebelum mentari membagi sinarnya padaku, aku masih bertarung dengan inginku sendiri. Sekiranya aku ingin menang dengan masalah hari ini, kemanapun arah angin, nantinya akan kucari kau. Kau adalah apa yang kurasakan, apa yang ingin kupahami ada padamu, apa yang ingin kujelaskan ada padamu. Semua ada padamu, karena sepiku berkata demikian.

Bila saja ada melati yang bisa kuberikan langsung padamu hari ini, maka saat itulah kuungkap rasa yang tak mungkin terbalas. Setidaknya sempat aku mendengar ketidakinginanmu pada rasa itu. Benar tidak berarti, benar tidak berharga pada dirimu.



Jika semua telah menjadi indah, maka akan ada senyumku yang kulahirkan untuk menghargai hari yang penuh sepi. Rindu, sepi, bukan cin(T)a.

Jika aku menjelaskannya padamu, dengan suara yang rendah di pagi buta. Kuyakin kau akan tertawa, heran, dan menganggapku bodoh. Namun hidup terasa tak adil jika semua seperti itu, setidaknya kau mendengarnya dan memberiku senyum. Cukup itu.

Dari senyummu, mungkin semua akan terlihat tanpa kau melanjutkan kata demi kata untuk mengubur harapku.


Jumat, Juli 22

Jangan Peduli Cin(T)a ku...

Kembali aku mengurai titik demi titik yang kusimpan untukk sebuah garis di hatimu. Kembali aku bersedih melihat semua kenyataan sore tadi, tentang semua tingkahmu yang benar-benar indah namun bukan untukku. Di pemberhentian mobil angkutan, aku masih melihat bayang-bayang perih diselimuti kecewa. Indah dan kau memang indah dalam garis yang belum sempat kuperlihatkan padamu saat ini.

Alangkah sepi dan memilukan jika hari itu kau menjelaskan perasaanmu yang sebenarnya padaku, menceritakan serta menjelaskan sikapmu yang seperti itu dan aku yang salah mengartikannya. Aku pernah membaca senyummu kala senja menemaniku berbagi cerita di tepi harapan yang sebentar lagi punah dan menghilang begitu saja.

Kusepakati bersama rindangnya pepohonan di samping rumah sahabatku, kusepakati dengan rumput yang tumbuh di halaman rumahku, kudengarkan suara-suara pagi yang memberi cintanya pada bumi. Sementara aku mendengarnya, aku berharap esok kau mampu seperti suara-suara alam disana.

Kapan aku menemukan waktu yang indah, waktu untuk menjelaskan perasaanku sesungguhnya. Kembali ke masa-masa yang mengharu biru. Selalu di awali dengan senyum polos dan berakhir dengan raut wajah yang dihiasi warna pedih nan sedih memilukan.

Sampai kapanpun jika aku masih ada, akan selalu kujelaskan cintaku pada malam. Sore itu aku jatuh cinta. Malam ini, aku membisu pada langit dan setengah purnamanya.

Kau sepertinya belum percaya dengan tingkahku, ketidakpantasanku hanya bersifat sementara. Kuyakin aku mampu mengubahnya, jika saja kau memberiku kesempatan untuk memulai memasuki ruang rindumu.


Semoga ada sedikit atau secuil rasa berani untuk menjelaskannya padamu...! Kau selalu membacanya dan kau tak menyadarinya.Semua karena masih adanya rasamu yang tertinggal di hatinya, seseorang yang ada disana. Yang jika dibandingkan denganku, bukanlah apa-apa. Hanya bermodal cinta, aku ingin mencintaimu setulusnya cinta. Jika kau anggap aku hanyalah manusia hina yang tak berarti apa-apa di hatimu. Biarlah.!

*Sedikit pun kau tidak menyimpan rasa, namun aku tidak akan berubah. Terlanjur, cinta menjadikan seperti ini...

Rumput pun Berbohong...

Kupastikan kau nantinya akan bosan dalam menghadapi caraku yang sederhana dalam bercerita, aku sebenarnya bukanlah orang yang suka untuk bercerita namun kubiarkan inginku berkuasa sehingga aku mampu bercerita. Dalam ceritaku itu, aku hanyalah sebuah semut kecil yang nantinya jika kau sudah bosan, kau bisa memberiku jalan untuk mencari tempat baru yang bisa lebih tenang dan damai.

Aku tetaplah rumput yang meski diceritakan sebagai semut, tetaplah rumput sehingga aku lebih memilih untuk kau sebut rumput daripada semut. Kemarin malam, aku kedatangan tamu yang menjelaskanku arti dari sebuah pengorbanan untuk menikmati kekuatan tersembunyi dari cinta. Mau baca ceritanya?

Tapi, jika aku bercerita aku bisa malu pada semut merah yang berbaris di dinding.

Baik, sedikit saja. Tapi jelas aku tidak akan menceritakan kisah semut yang penuh dengan pengorbanan untuk memperjuangkan perasaannya.

Setiap perasaan memiliki kekuatan, benarkah demikian? Kemarin aku mendapatkan nasehatmu, pagi ini kucoba renungkan setiap perkataan-perkataan bijakmu padaku.

***
Engkau ada dan telah menangkan hatiku, hari-hari kemudian berbeda. Dimensi kian memutar balikkan logika yang telah tersimpan rapi dalam pikiranku. Jelas, aku telah merasa ada yang berbeda dengan sikapku terhadapmu. Sulit bagiku untuk mengatakan ini cinta, jarang aku merasakan cinta. Aku tak mudah untuk jatuh cinta, namun ketika aku terjatuh aku sulit untuk mencari yang lain.

Aku menuduh angin tidak mampu memberiku suatu harapan, aku mencaci tanah yang meumbuhkan rumput yang selalu berteman sepi, namun pada mentari pagi ini aku tegaskan bahwa aku telah terjebak dalam langkahku sendiri. Tetaplah bersinar, jika kau mampu menghanguskan akar-akar itu, bekerjasamalah dengan tanah yang siap membunuhku.

Hati terkadang berkata tak mampu, selesai atau tidak selesai. Jalanku kian melambat, dan dia semakin jauh. Meskipun aku menjadi semut, aku tak bisa mendapatkannya.

Yang kupercaya saat ini, kalau kau mencintai rumput yang berteman sepi. Datanglah memberinya sedikit ceritamu. Maafkan ketidakjujuranku, bagiku kaulah warna baru hari ini.

Kukatakn dengan sederhana di pagi yang nantinya kau hadiri, aku telah salah mengartikan sikapmu. Aku telah menjebak langkahku sendiri, dan kupikir tak mengapa jika aku tetap disini. Merasakan anging mamiri, melihat lukisan langit, dan ada awan yang kan meneduhkan perihku. Jangan ada Barubu yang mengganggu tarian rumput, cukup kau saja yang menggangguku.


Aku dalam bahagia yang tidak kau mengerti. Aku dalam sepi yang tidak pernah kau sentuh, aku tersenyum dalam ruang rindu yang mulai kujalani. Di balik awan, ada berkas cahaya yang menghubungkan rasaku dan rasamu, jika mendung lanjutkan saja menjadi hujan, rumput akan bahagia jika itu berubah menjadi air-air langit yang memberi bahagia pagi ini.

*Sepertinya pagi ini sepi mulai merindu pada hadirmu.

Kamis, Juli 21

Masih Berharap...,

Serasa melepas harap yang begitu besar saat kulihat kenyataanmu begitu tegas menghempaskanku. Surat demi surat percuma kukirimkan, tidak ada balasan yang kuterima. Malam akan selalu menjadi sepi meski bintang sesekali menghiburku. Lingkar bahagia yang kulukiskan dalam kertas peta perjuanganku mulai berubah, satu titik telah bergesar. Ini masalah sepi yang kian menjadi tangguh bersemayam dalam relung hari yang perih.

Sore ini meski kau tak menceritakan bahagiamu, aku akan tetap memberikanmu ucapan selamat. Tidak pada apa yang kuinginkan, kujelaskan padamu bahwa aku mencoba mendekatimu dalam sayap yang tengah siap retak. Beban mulai terasa berat.

Sebentar lagi.,

Aku pandai bermain harmonika, dan aku punya satu buah lagu untukmu. Untuk sepiku pun kulukiskan dalam bait-bait yang sebentar lagi kusut. Berhentilah mencintainya jika kau mencintainya, benarkah aku harus seperti itu?

Jika kau mencintainya, perhatikan bahagianya dari senyumnya. Dari damainya hati saat bercerita tentang mesranya hari mereka jalani. Dengarkan cerita mereka, sambut bahagia mereka. Bisakah aku seperti itu?



Berharap lebih, aku menunggu. Dosa telah menjerumuskan rasaku dalam separuh nafasku. Seiring perginya, dan hadirnya. Menemaninya dalam duka, menyaksikannya dalam bahagia.

Dari kejauhan, aku berusaha mebiarkan bahagiamu kurasakan.

Benarkah aku mampu melihatmu mencintai orang lain?

Cin(T)a benar pergi., bukan untukku kali ini. Kisahku hanyalah kumpulan sepi, sedih dan rindu yang terabaikan. Cintaku adalah cerita yang tak perlu kau hiraukan.

Rabu, Juli 20

Benarkah tak pantas?

Tidak selalu seperti ini, kala pagi dengan sinar mentari menjatuhkan percik-percik kedamaiannya. Tapi tidak bagi aku yang tengah bersedih, ataukah aku tengah putus asa , karena aku merasa telah hilang. Jika aku planet mars, mungkin aku telah kehilangan garis edarku. Bulan sudah tidak menemaniku berbincang lagi, tak lagi mendengar beritaku untuknya. Semua telah berakhir bagiku, setelah dia menemukan jalannya yang jauh lebih indah.

Setelah kucoba untuk bertahan, namun belum pernah terlihat dia merasakan apa yang tengah kurasa. Benarkah dia memang tengah menunggu orang lain, dan sama sekali tak pernah berharap untuk melihatku. Inginku telah pupus dalam waktu yang singkat, jika harus menunggu, aku akan menunggu. Berharap selalu, setelah kunobatkan senyumnya sebagai penghilang sepiku, namun benar-benar dia tidak menyadarinnya.

Jika esok tetap seperti ini, mungkin ini adalah jalanku sendiri. Harus menerima semua ini, namun jika kupikir-pikir "apa aku berhak mendekatimu?" atau mungkin aku tak pernah pantas untuk mendapatkan sedikit pun senyum darimu. Aku telah menemukan rindu, namun aku juga telah menemukan sepi. Saat-saat menunggumu membalasnya, aku merasa memasuki dimensi yang berbeda.


Ceritaku menjadi indah jika melihatmu tersenyum, ketika kau di sampingku jantungku akan berdebar berirama menantimu menyapaku. Jika kau tak mampu menyapaku, cukup kau tersenyum saja. Aku benar-benar bingung dengan perasaanku sendiri, benarkah aku telah mencintaimu hingga seperti ini. Aku terdiam menunggu jawaban darimu, jawaban yang cukup kau jawab dengan perilakumu. Aku belum berani menjelaskan langsung di depanmu, aku pun mengerti posisiku yang sangat menyedihkan.

Jika harus berbicara mengenai keadaanku, salah satu pertimbangan yang harus kuperhatikansebelum aku menyatakannya padamu. Mungkin tak ada mawar yang akan menerima rumput yang hanya tumbuh di pematang sawah, yang terinjak sopan di kaki para petani. Mawar tetaplah mawar, yang hanya bisa kutatap jauh. Melihat warnamu pun sepertinya cukup, karena aku memang tak pantas.

Selasa, Juli 19

Aku sebenarnya (ImAjinAsi.......)

Suatu ketika dimana angin terasa sangatlah sejuk nan memberi kedamaian dalam hati, saat itu pula aku melahirkan senyum nan bahagia untuk sebuah pemikiran dan pilihan hidup. Jika saja aku mengeluh minggu lalu maka aku takkan pernah menemukan cinta yang setulus imajinasiku sendiri, masih dalam imajinasi. Ketulusannya tak bisa dipaparkan lewat secarik kertas dan tulisan sederhana, tulusnya tidak sederhana dan memang rumit serumit kau mengartikan puisi-puisiku. Mungkin saja saat ini alismu mengerut membaca rangkaian kata-kata ini.

Aku pernah membaca tulisanmu yang jauh lebih memaknai kata per kata, dibanding tulisanku maka aku akan mati dan terhempas dari dimensi yang kau inginkan. Setiap rahasia makna yang kau salurkan menceritakan kehebatanmu untuk setiap titik-titik kagum dalam pikiranku.
Sejauh perasaanku mencoba menemani ketentuanku dan memahami kehadiranmu, aku sungguh hilang dan tersesat dalam pikiranmu yang sulit untuk kupahami. Aku tidak meyerah dan tidak ingin berhenti, sejenak aku berniat untuk menghentikan jejak-jejak abstrak untuk menemuimu namun kupikir jika aku melakukan itu maka aku membunuh kekuatan-kekuatan hadiah dari langit, sebab di langit baik itu siang atau malam, aku mampu menemukanmu.

Di siang hari, ada segerombolan awan yang mampu meneduhkan jiwa, ada sinar matahari dengan gagahnya menghangatkan rumput taman samping rumah tempatku menuliskan surat-surat rahasia untukmu, sedangkan di malam hari, langit seperti layar yang memperlihatkan rindu yang begitu besar. Di setiap bintang yang bertebaran aku menitipkan sebuah sinar untuk kau rasakan namun kupikir kau tidak akan merasakannya, tidak akan peduli sampai hari ini.

Dalam keadaan seperti ini, sering aku berhenti sejenak dan menengok ke atas memandangi langit.

“Wahai Tuhan yang sedang duduk di singgasana langit ketujuh, inikah kehidupan yang KAU berikan padaku?”

Sekarang, dan mungkin hari esok. Aku terperangkap pada dimensi yang kuciptakan sendiri, ruang yang selanjutnya semakin kau jauhi kemudian membiarkan semua cahaya meredup, menghilang, dan menjadi abadi dalam ketiadaanya. Teruslah seperti apa yang kau inginkan, setidaknya kau membaca tulisan ini dan memberi satu komentar yang membuatku tersenyum.

Untuk seseorang yang memiliki beberapa huruf A dalam namanya,