Selasa, Desember 27

Gundah

Diamkan aku pada malam yang tenang, ajari aku tentang senyum yang terluka.

Kala aku menjadikan masalah itu raja dalam pikiranku, maafkan aku telah mengusik damaimu. Kuharap, kau masih mengerti dan memaafkanku malam ini.

Sebelum pagi membawanya ke hari yang lebih mengusik pikiranku.

Setelah malam menguburnya bersama gelap, dan biarkan aku menghiasi harimu dengan caraku yang sederhana.

Mungkin sederhana, ataukah tidak berarti sama sekali.

Namun, aku dan sebuah kesederhanaan akan menutup sepimu yang telah cukup letih menemanimu.

Saatnya aku yang menuturkan kata-kata yang indah dan bisa membuatmu lebih baik. Tapi, jika itu berbeda dengan inginmu atau inginku, Maafkan!

Aku menjadi salah dalam kesalahan yang telah kuselipkan di sudut senyum yang layu. Aku menitipkan harapan pada angin yang berlalu, kerap aku mudah mengerti dengan semua harimu. Aku kalah dengan ego yang tak bisa kupahami.

Maafku pada senyum yang telah kau palsukan,

Maafku pada kata-kata yang tak berdosa,

Maafku pada diam yang menggundahkanku,

Maafkan segalanya,

Untuk malam yang selalu kau lukiskan dalam mimpiku.

Kuharap senyummu menjadi harap yang sangat bermakna malam ini,


Sejatinya, aku menanam gundah yang harum malam ini.

Padamu, bisakah kau menggagalkan tanaman itu?

Senin, Desember 26

Ketulusanmu

Dengan apa yang telah kugambarkan pada setiap perilaku dan harapan padamu. Aku telah tuangkan harapku yang lebih dari biasanya pada sebuah ruang di hatimu, Ketulusanmu.

Sebuah keadaan yang akan menggundahkan hatimu yang menuai bahagia. Adakah kau akan pahami bahagia yang menggundahkan itu? Tak bermaksud mengusik hari yang tak pernah kuinginkan. Selama ini aku menakar harapan itu, dan kudapatkan pada senyum dan hadirmu.

Ketulusan menutupi keraguan akan hari yang perih, kejujuran hati akan selalu mendampingi untaian kisah yang wajib kita jalani. Suka maupun duka akan tetap berbagi dan silih berganti melangkahkan warnanya. Jika hari ini ada tangis, maka biarlah air mata menentramkan hati yang perih. Namun, esok canda tawa mampu melahirkan pelangi dalam hati yang penuh warna. Kehidupan ini selalu dipenuhi oleh warna yang menguatkan nurani. Aku kuat oleh warna yang kau tularkan dari sepi yang terjaga. Aku tegar oleh langkah yang kau lukiskan dalam setiap malam. Aku ada dengan harapan yang lebih, karena kupikir kau telah menghadirkan hatiku dalam mahligai hatimu sendiri.

KeTULUSan, akan terlihat ketika kau mampu mengharmonisasikan apa yang kau katakan/janjikan dengan apa yang kau kerjakan/berikan.

Bisakah engkau setia dengan ketulusanmu?

Tak perlu setia untuk aku,

Hadirkan setia pada ketulusan yang selalu terjaga. Malam ini aku mengundangmu untuk tetap berada pada sebuah garis yang selaras, mengundangmu untuk saling berbagi ketulusan. Isyratkan hatiku untuk selalu mengerti dan pahami harimu, begitupun dengan segala isyrat hati yang kusampaikan dalam setiap malam untukmu. Alam akan membiarkan aku kekuatan untuk selalu menjaga apa yang harusnya selalu kujaga.

* Percayalah...! Aku Bisa..,!!

Senin, Desember 19

Majas Oksimoron ^^

Jika hari itu tiba lebih cepat dari yang kuprediksikan, aku tidak bisa lagi berpura-pura untuk tegar. (jawaban pertanyaaan seseorang, terkait cerita ini.!)

Bergegaslah untuk menyelesaikan tugasmu, mengakhiri masamu dan memulai warna hidupmu yang baru. Kalimat yang akan kusampaikan saat kau telah melewati indahnya mahasiswa S1 telah kutemukan. Dan itu pelajaran yang kudapatkan saat kau memberikan kuliah umum pada pukul 23.00 WITA. Menggunakan majas oksimoron, bermain dengan pertentangan. Disatu sisi aku bahagia, namun di satu sisi aku merasakan kegundahan.

Terima Kasih telah mengajarkan majas itu! ^^

Tak dapat kupungkiri, berkecemakunya rasa yang dihadirkan hari itu sangatlah besar. Tentu akan berbeda dari masalah sebelumnya. Namun aku telah mempersiapkan coping stres (mengertikan tentang coping stres? ^^) untuk menghadapi waktu itu, termasuk kehadiran oksimoron malam kemarin. Sejujurnya, aku ingin melihatmu selesai lebih awal, sebelum kau memasuki masa-masa rentan sebagai seorang mahasiswa S1. Namun aku tetap ingin melihatmu untuk tetap berkarya bukan sekedar menjadi manusia yang berhenti di satu titik yang biasa-biasa saja.

Aku juga menanti hari itu,!

Hari dimana aku mendengar kabar bahagia namun menyakitkan, serta sangat menggalaukan.

(pernyataan di atas sudah termasuk oksimoron atau belum? Jawab sendiri, sms kalau betul! ^^)

Hari disaat kau harus berhadapan dengan tuntutan kehidupanmu, ketika cinta lain datang memberi kepastian dan keindahan yang berbeda. Jika faktor X memintamu untuk menyambut dan menerima itu, entah majas apa lagi yang harus aku gunakan. Adakah majas yang lebih keren dari majas Oksimoron? ^^

Aku hanya menggambarkan sedikit sketsa lukisan pagiku tentang kegundahan, namun kebahagian setelah kau tersenyum dalam luka, namun aku lebih terluka nantinya, tapi ini sudah jalan yang kupilih, semuanya telah indah, dan akan indah pada waktunya. (majas oksimoron berganda disertai galau, eh majas galau maksudku).

Sejauh ini sangat indah dengan cerita berparagraf sederhana bersamamu, dan aku ingin mengakhiri paragraf terakhirku diusia yang tak lagi dipermasalahkan. Dimana kau masih selalu setia memberiku kekuatan dan inspirasi, dan paragraf terakhir itu akan kulukiskan namamu, sebab aku telah mencintai cin(T)a.

Jumat, Desember 16

Cin(T)a menguatkanku

Meskipun sore tadi kurang menyenangkan, namun aku telah menemukan sesuatu yang berbeda. Sebelum awan hitam menggumpal di langit aku telah menemukannya, kemudian hujan mencoba kembali menjelaskan dalam setiap tetesannya. Sejauh ini aku selalu merasakan itu, saat bersamamu dimana aku mampu melupakan setiap sepi.

Yang kupahami saat ini adalah cinta mampu memberi energi lebih. Kehadiran dan kerinduan selalu menakarkan sebuah arti yang menjelma dalam singgasana pikiranku. Dimensi yang telah kucoba ciptakan mampu melampaui batas dari segala yang kupikirkan sebelumnya. Biarkan aku terus disini, apapun pilihan yang waktu berikan, nafasku ingin kubiarkan berhembus dalam sebuah rasa yang begitu dalam menelusuri jiwa yang selalu mendamba ketulusanmu. Tak peduli dengan apa yang mereka katakan tentang kita. Cerita ini adalah dimensi kita, dan akan kujalani.

Aku telah letih mengurai masa lalu, pencarian sebelumnya selalu kuhentikan sendiri. Kali ini berbeda, aku tak akan pernah menghentikannya, meskipun kau mencoba berhenti. Bagiku, kematian akan tiba saat kau mengabaikan dimensi atau mencoba untuk berpindah dimensi lain. Entah kematian itu apa, mungkin kekososngan yang telahir dari kekosongan, dan kekosongan itu sendiri yang nantinya akan mengisi kekosonganku sendiri.

Namun sejauh ini, aku percaya tentang segala apa yang kau katakan dan lakukan untuk menjelaskan cinta yang putih. Sekiranya, aku akan selalu percaya dengan hari-hari yang akan kita lalui, adapun masalah persepsi adalah hal yang wajar. Ketidakstabilan emosi dan kematangan berpikir kadang tidak hadir di saat waktu yang dibutuhkan. Tulisan ini menjadi pengungkapan rasa bersalahku dalam memahami hatimu, salah saat menerima perhatianmu, dan salah dalam menyampaikan pesan yang ambigu.

Disaat kondisi raga mungkin terasa lelah, satu hal yang kusampaikan sore itu bahwa hadirmu telah menguatkan batinku. Bahwa cin(T)a telah menguatkanku,

Namun aku gagal menyampaikannya. Sekali lagi, maaf untuk sore yang menjadikan semuanya agak berbeda.

*mataku enggan terpejam, meskipun malam dan rasa kantuk membentangkan selimutnya di langit malam, selalu kupandangi Nokia 1202 itu, berharap satu pesan darimu datang menyapa. Kuingin kau menjadi indah, dan cerita ini akan menjadi indah saat aku benar-benar memilikimu. Tuhan akan mendengar pintaku.

Jumat, Desember 9

Dengar Bisikku-The Rain

Kadang aku berfikir
Dapatkah kita terus coba
Mendayung perahu kita
Menyatukan ingin kita

Sedang selalu saja
Khilaf yang kecil mengusik
Bagai angin berhembus kencang
Goyahkan kaki kita

Reff:
Genggam tanganku jangan bimbang
Tak usahlah lagi dikenang
Naif diri yang pernah datang
Jadikan pelajaran sayang

Dengar bisikanku oh dinda
Coba lapangkan dada kita
T'rima aku apa adanya
Jujur hati yang kita jaga

Mengapa selalu saja
Khilaf yang kecil mengusik
Bagai ombak yang besar
Goyahkan kaki kita

Kembali ke: Reff

Bila gundahmu tak menghilang
Hentikan dulu dayung kita
Bila kau ingin lupakan aku
Ku tak tahu apalah daya

Minggu, November 20

Pesan Sore itu

Itu bukan ceramah sebenarnya, namun sinyal yang kuat untukmu. Sekaligus tamparan batin untukku. Untungnya aku imut dan mampu senyum kembali. ^^

Membaca pesan yang kau kirim sore itu, menghujam jantungku. Tepat dengan istilah yang selalu kau ucapkan, tentu akan lebih tepat lagi jika saya kombinasikan dengan “TERSENYUM DALAM LUKA”. Bisa saya bayangkan, waktu akan menjadi kejam dan rasa akan mati seketika. Tak ada yang bisa disalahkan kecuali saya sendiri. Saat hari itu tiba, mungkin di atas rumput yang hijau, akan kurebahkan harapku, aku terbaring lemah menatap langit yang biru.

Tak perlu membayangkan itu.

Sejatinya, aku ingin menemanimu. Pagi, siang , sore, malam, kapan pun engkau mau. Bahkan saat kau tertidur, aku ingin selalu ada. Aku akan ada saat kau terbangun, mendekapmu seolah esok aku akan pergi. Disetiap hangat jemarimu, kutitipkan rasa yang harus kau pahami. Aku ingin merangkum kisah ini dengan satu kata, kata yang saat ini kau pikirkan. Tak perlu kutuliskan disini. Ungkapkan saja dihati dan pikiranmu. Hubungkan pikiran dan perasaanmu pada ruang yang hampa. Akan kau temukan aku menantimu disebuah ruang yang selalu kau pertanyakan.

Dan kini kuharap kau mengerti, walau sekali saja aku tersenyum. Tak perlu lagi aku bersembunyi dari ke-aku-anku. Tak perlu lagi aku mengingkari rasa sakitku, atau bahkan rasa sakitmu. Inilah kejujuran, bahwa rasa memang misteri. Terkadang pedih, namun apapun itu terimalah. Disegenap ruang jiwaku, tanpa harus aku berdusta. Aku ingin kau percaya denganku. Di dini hari yang sepi, aku bermain harmonika, mengirimkan pesan untuk pagi yang akan membangunkanmu.

Aku takkan pernah melepasmu, namun tak juga akan kupaksakan untukmu menantiku. Setitik pengertian akan selalu memayungimu. Kembali, jika esok mengubah waktu menjadi kejam maka aku akan lepaskan segenap jiwaku. Tanpa harus ku berdusta, kau akan memahamiku.

Dan kuharap kau menemuiku di ruang yang selalu kau pertanyakan, walau sekali senyum saja kuharap kau pahami. Cinta adalah kerelaan, pengorbanan, bahkan air mata.

*Cintaku adalah cin(T)a

Rabu, November 16

Cerita Mereka...

Pertarungan masa silam akan terus kembali berulang dari masa ke masa. Kekasih para mahluk dimensi yang tak terjamah akan memunculkan dirinya. Di sela-sela kesibukan nafas yang terus berhembus, maka akan ada setitik ruang yang mengundang semuanya hadir. Aku tidak akan menerima apa yang tidak ingin kau terima, namun aku mampu merasakan sedikit ruang yang mungkin bisa kau rasakan juga atau bahkan samasekali tak kau pahami dan rasakan.

Sejengkal harapan senantiasa memecahkan dimensi. Sepanjang apa yang tak kita pahami, ada langkah yang bisa membawaku di sebuah ruang. Aku terdiam bahkan tak mampu bertutur dengan sempurna saat mampu memahami, merasakan dan Melihat semuanya. Seakan kau bukanlah dia dan dia bukanlah kau, namun itu adalah aku. Aku bercermin pada kekosaongan yang telah terisi oleh ruang hampa. Kehampaan dan kecintaan menyatu pada bentuk yang berbeda dari biasanya.

Tentang kekosongan dan setiap nafas yang memuncak di setiap sudut-sudut sepi akan selalu. Selalu menuntut harmoni yang berbeda dari sebelumnya. Tentang harmoni, aku sendiri memahaminya sederhana dan singkat. Sekali lagi tentang kekosongan. Aku menyukai langkah yang mendekatkanku pada kekosongan. Tak akan terpahami akan kehampaan, namun akan mudah kau pahami jika kau berada pada kondisi astral. Di sebuah tempat dimana nafas seakan berwarna dan pikiran seperti merasuk pada bayangan yang berbeda.

Di tepi waktu yang kadang kita tak sadari, sekumpulan rasa dan pikiran memandangmu dengan tenang dan damai. Kadang kau rasakan dan kadang kau hiraukan. Dari semua yang telah kau baca, jangan bertanya apa maksud semua ini. Jemari bermain dengan rasa yang tidak biasanya. Seakan dikendalikan oleh pikiran yang liar. Menuliskan apa yang tidak aku pahami. Mungkin jika aku membiarkannya bebas, maka aku akan menemukan tempat bertahtanya kekosongan.

Mereka ada, ketika kau berbalik memandangku. Dan mereka ada saat aku memandangmu dari belakang. Mereka tersenyum, dan aku masih belum terbiasa, namun aku menerimanya.

*akan berlanjut...,

Selasa, November 1

Seketika,

Terima Kasih atas kesabaran itu. Tetaplah untuk menemaniku merangkai harapan baru yang sempat terkubur. Bantu aku memahami apa yang belum aku pahami sebelumnya. Aku mencintai cinta yang telah hadir. Akulah ruang untuk ruang yang ada di dimensimu. Seketika, aku bisa terdiam sepi.

Dan maafkan aku yang sejatinya telah membuatmu harus berusaha beradaptasi dengan situasi yang rumit. Posisimu hari ini dan keadaan yang terkadang menyulitkanmu membuatku kadang merasa bersalah. Kadang aku menyalahkan diriku sendiri. Satu hal yang memberiku titik harapan adalah “kau” yang masih mampu tersenyum dengan keadaan yang menyudutkanmu, dan menggiringmu pada masalah yang berbeda dari sebelumnya. Seketika, kau bisa terdiam sepi.

Hari yang tak pernah kuharapkan hadir adalah saat kau menyerah dengan semua ini. Sadar atau tidak, kau telah membangun sebuah harapan yang kuat di dalam dimensiku. Suatu ketika, engkau berniat untuk meninggalkan itu, maka satu persatu kepingan-kepingan harapan itu akan terbang, pecah dan bertebaran. Hitamkan semua warna yang telah kau hadiahkan di setiap hari yang kusyukuri. Seketika, kau dan aku bisa terdiam sepi.

Sekali lagi terima kasih, aku tak akan memintamu untuk bertahan pada kondisi yang rumit. Suatu saat ketika kau menyerah, kembali aku akan tetap mendukung keputusanmu. Aku hanya ingin kau untuk merasakan harapan-harapan yang telah kubingkai dengan damai. Jika kau masih ingin bermain pada harapan itu, tetaplah optimis untuk menemukan bahagia yang sebenarnya.

Inginku

Maaf,

Berbahagialah dengan pilihanmu

Pilihanmu itu jangan sampai menjadi beban

Maaf, maaf, maaf,

Sesulit apapun itu, aku akan selalu disampingmu

Kuharap kau tak mengundang kelelahan

Tak melahirkan keputus asaan, dan tak berusaha memecahkan harapan itu

Aku terlahir bukan untuk menjadi beban,

Suatu saat jika aku telah menjadi beban, pilihlah jalan yang baru

Inginku, kau ada pada bahagia